Kembalikan MOS pada fungsi yang sebenarnya.

Juli 16th, 2009 by marinki

Miris rasanya mendengar berita tentang kasus seorang ayah dengan teganya mendamparkan anaknya di rel kereta api.. sehingga kini anaknya cacat karena ulahnya.

Belum seminggu, datang lagi berita seorang siswa SMU yang sedang mengikuti MOS meninggal dunia karenanya..

Kasus pertama memang berbeda dengan kasus ke dua, namun sama-sama yang menjadi korban adalah seorang anak. Betapa muramnya dunia anak-anak sekarang. Mereka harus berjuang agar menjadi “orang” saja begitu banyak kerikil yang harus dilaluinya.. dan kerikil tajam itu tidak jauh dari lingkungannya sendiri.

Sudah banyak para ahli kejiwaan, ahli perilaku, ahli pengobatan, para guru, para ahli agama mengadakan seminar-seminar, lokakarya, pendalaman materi-materi, membuat buku-buku, memberikan ceramah-ceramah tentang moral, budi pekerti… mereka seolah tidak berdaya bahwa ternyata di lapangan lain kenyataannya.

Mengapa terjadi tindak kekerasan terhadap anak? Siapa saja yang bisa menjadi korbannya? Tanggung jawab siapa kalau terjadi “bullying” terhadap anak? Kenapa harus terjadi?

Anda atau pun siapa saja yang menjadi orangtua pasti tidak ingin anaknya menjadi korban bullying. Tapi sebagai orangtua perlu merenung, pertama bahwa anak-anak adalah peniru yang baik. Anak akan cepat mereplikasi apa yang mereka lihat, mereka dengar, mereka rasakan dan yang dialaminya. Kalau kita memperlakukan mereka dengan keras, artinya orangtua telah mencetak mereka berkepribadian keras. Kemungkinannya adalah mereka suatu saat akan mempraktekkannya kepada yang lain dalam bentuk bullying. Kedua, bahwa selama ini meski pun contoh kasus sudah sering diperlihatkan keburukan dari sistem MOS atau OSPEK atau istilah lainnya yang selalu menghasilkan korban-korban.. sejauh ini mengapa hal seperti itu dianggap sebagai fenomena biasa dan wajar? sehingga dibiarkan berlalu begitu saja? Tidakkah dipikir bahwa kekerasan akan melahirkan kekerasan, dan bukan ketegaran… sekali lagi bukan ketegaran! Apa yang ada dalam pikiran Kepala Sekolah dan Guru-guru sebagai pendidik terhadap MOS? Mengapa pihak sekolah, Komite dan Orangtua membiarkan acara tahunan itu tetap diizinkan berlangsung, dan harus memakan korban?

Marilah kita gunakan rasionalitas dan realitas sebagai orangtua, pendidik, pencetak generasi mendatang bahwa tempatkanlah MOS itu ke fungsi yang sebenarnya, gunakan MOS itu sebagai ajang silaturakhmi dan persahabatan antara siswa yang lama dan siswa yang baru. Misalnya saja seorang siswa yang baru akan mendapat kakak kelas yang akan membantu kesulitan di sekolahnya. Setiap anak memiliki adik asuh yang diajarkan dan dibimbing untuk mengenal lingkungan sekolahnya oleh masing-masing kakak kelasnya. Bukan seperti ini, MOS dijadikan sebagai proses perusakan moral dan mental siswa… bahkan penghancuran kepribadian siswa.

Hapuskan cara-cara lama yang sama sekali tidak mendidik. Berikan waktu kepada anak-anak untuk menumbuhkan kepercayaan  bahwa sekolah adalah tempat yang aman untuk mereka. Pendidik harus bisa memberikan kesan bahwa mereka bisa dipercaya dan ada untuk anak-anak.

Sulitkah untuk berubah?

Juli 14th, 2009 by marinki

Sekian tahun lamanya seiring perjalanan hidup seseorang, banyak hal yang bisa dilakukan untuk melakukan suatu perubahan. Pertanyaannya justru yang sering terjadi adalah “kok dari dulu tidak ada perubahan?” , “Apa saja yang dia lakukan selama ini?” Mengapa ya?

Sepulang dari Bandung tempatku dulu hidup bersama keluarga besarku dan tidak sampai separuh umurku kujalani di sana, rasanya banyak memang yang aku ingat, tentang masa kecilku hingga masa remajaku di sana. Satu hal yang mungkin pemikiranku agak beda dengan saudara-saudaraku dan teman atau sahabatku bahwa aku bercita-cita ingin sekali tahu dunia luar selain Bandung.. Pikiran anak kecil waktu itu.. entah apa yang terlintas dibenakku.. memang aku ingin sekali, dan saat itu yang kutahu hanya satu yang ada dalam pikiranku yaitu menjadi “pramugari udara”… jadi untuk mengisi kegalauan yang ada aku paling sering menyanyikan lagu dari biduanita Tetty Kadi.. “Alangkah indahnya.. pesawat udara… kuingin … menjadi .. pramugari.. dst.. Se jam yang lalu ada di Jakarta… dan saat ini ada di Surabaya”.. tak terbayangkan memang bagaimana rasanya naik pesawat udara…

Khayalan ingin berubah dan melakukan perubahan ingin tercapai.. entah bisanya kapan, tapi saat itu aku punya keyakinan.. bahwa suatu saat Allah yang setiap aku menengadahkan ke langit.. aku memohon… dan aku merasa yakin… suatu saat akan datang waktunya….

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, lalu tahun pun berlalu begitu saja… lupa bahwa waktu kecil aku ingin menjadi pramugari.. lho kok? aku tersangkut di kantor yang memproduksi pupuk?  Yaaaa…. lupakan saja itu kan dulu… yang jelas.. bukan satu-satunya jalan keliling dunia itu adalah menjadi pramugari… pekerjaan apapun bisa .. cari kesempatan lain.. aku yakin.. dan melangkah lagi demi masa depanku yang saat itu masih banyak kerikil yang harus kulalui.

Setiap minggu aku usahakan pulang ke Bandung, karena aku merasa hanya di rumah orangtualah aku merasa nyaman, tentram, dan ada yang memanjakanku.. apalagi kalau aku tampak kurus dan sedikit lusuh.. pasti ibuku langsung menghiburku… dengan kata-kata yang sangat menyejukkan hati… sabar ya.. nanti kamu juga akan ada yang memperhatikan kamu.. yang sholeh.. yang baik.. dan bla.. bla…bla.. Ketika sedang mengobrol begitu.. lewatlah tukang sol sepatu langgananku sejak aku sekolah di Sekolah Dasar…. Masya Allah… aku tertegun.. aku panggil dia… dengan ramahnya dia menyapa..” lama tidak kelihatan dan tidak ngesol lagi?” aku menjawab sekedarnya saja… asal dia tidak merasa bahwa aku sudah tidak membutuhkannya lagi saja. Dalam pikiranku … kenapa dia masih tetap saja jadi tukang sol sepatu? Iseng aku tanya.. sekarang Emang tinggal di mana? Dengan lugunya dijawab.. “ya masih di kampung nden.. Cucu Emang sudah ada 6 orang.. anak Emang juga buka usaha sol sepatu di kampung, tapi penghasilannya lebih banyak Emang… hehehe… ” katanya sedikit bangga. Aku pun rasa tidak percaya bahwa zaman sudah begini maju (perasaan) masih ada saja yang menggantungkan hidup “hanya” dari jasa membetulkan sepatu…. boro-boro memikirkan naik pesawat dan ingin keliling dunia.. menjajakan jasa memperbaiki sepatu orang saja berkeliling berjalan dari kampung ke kampung …. mereka merasa bahagia dan merasa berhasil telah sanggup menghidupi keluarganya dengan baik…

jadi bagi Emang itu pertanyaan saya akan di jawab begini mungkin… “Untuk apa berubah?” atau “Siapa yang harus berubah?”

Lantas saya pun berpikir… kenapa saya pun berubah? Siapa yang telah merubah jalan hidup seseorang?

Kalau saya merenung soal perubahan, semua urusan akan saya hubung-hubungkan dengan Firman Allah SWT, bahwa Allah SWT tidak akan merubah suatu kaum, jika kaum itu sendiri yang tidak merubahnya. Artinya bisa disimpulkan bahwa orang tidak akan bisa nasibnya berubah kalau tidak ada niat pada dirinya untuk berubah. Jadi … sulitkah untuk berubah?

Dan kemarin, waktu ada reuni arisan alumni, saya juga cukup terhenyak pada sikap salah satu teman yang… ternyata gaya dan pola berpikirnya sama seperti 35 tahun yang lalu saya bersamanya… astagfirullah… ini mungkin baru jawabnya …. bahwa dia memang tidak niat untuk berubah… karena tidak niat, maka jadi sulit.. hhhmmmm….

Juli 1st, 2009 by marinki
Bali blast monument.
Image via Wikipedia

Begitu mendengar habis pembagian raport.. sekolah diliburkan… anak-anak biasanya tampak gembira… artinya … libur telah tiba… anak-anak mulai merencanakan akan apa dan mau mengajak pergi kemana…. tapi…

lhoooo…. tidak ada suara apa-apa di rumahku ini? Otakku mulai menangkap “sesuatu” … waahh… kayaknya bakal ada apa-apa juga nih dengan anakku ini.. tapi bagaimana mulai bicaranya ya?

Deee…. Selasa besok mama mau ke Bali ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan di sana… adek mau ikut kan? Harap-harap cemas aku menunggu jawabannya… dia tidak menjawab.. asyik saja dengan PSP nya.. aku lanjutkan… pergi sama-sama dengan Keluarga HI lho… ehm…. alisnya mulai bergerak.. tapi matanya masih tetap ke “layar gadget”nya … “yah… sudah… kalau tidak mau ya tidak apa-apa”.. kataku sedikit kesal, lalu aku beranjak dari sofa terus ke pantry ambil camilan….

eeeeeehh….. dia memburuku…. mau.. mau.. dong maaa…. 

Ayahnya berpesan… jangan lama-lama ya… dua hari saja… Kamis sudah di rumah lagi.. kan minggu depannya kita harus ke undangan di Yogya..

Di perjalanan aku sempat merenung.. kasihan anakku ini.. sekalinya akan berlibur dibatasi .. dan tidak bisa dengan ayahnya.. ayahnya tidak pernah bisa libur bersama-sama.. tapi aku adalah seorang ibu yang diberkahi anak dengan kondisi seperti ini … aku harus bersyukur… aku adalah ibu yang bahagia.. aku bersujud kepadaMu ya.. Allah.. karena karuniaMu, aku bisa merasakan kenikmatan ini.

Anakku tampak gembira bermain bersama keluarga HI.. aku pun senang melihat dan merasakannya… berenang… berlari-larian .. seperti tidak ada lelahnya.. lucu sekali.

Anak memang individu yang bisa menyenangkan orangtua.. sayang hanya sedikit orangtua yang bisa mengerti. Aku justru belajar dari anakku..

Reblog this post [with Zemanta]

ORBS tuh makin berani….

Juni 1st, 2009 by marinki

Mulanya biasa saja saya mendengar orang bercerita tentang “ORBS”… apa yang aneh? Lama-kelamaan karena komunitas saya mulai beralih ke suatu kelompok yang banyak menggunakan mata batin, kekuatan batin saya pun sedikit terolah.. paling tidak saya sekarang sensitiflah… terus terang saja dari lubuk hati, masih ada keinginan tidak mau mendalami hal-hal yang orang awam mengatakan ,,,, hari gini…. percaya takhayul… mikir dong… mikir….  Saya sering menjawab… “bukan tidak mau mikir lho… otakku ini pas-pasan…” eh… teman saya menyambung… dan dia mulai bijak dengan dakwah yang berulang… katanya.. “mikir itu penting dan akan manfaat kalau proses mikirnya juga menggunakan hati nurani..” ahhhh…. katanya disuruh mikir… sekalinya saya menggunakan apa kata batin, kali ini yang terbaik justru saya disuruh menggunakan juga hati nurani…. Mana yang harus dituruti nih friend?

Saya bilang…. saya sekarang sering pusing kalau pergi ke mall, ke restoran, ke cafe, ke warung, ke kantor juga…. ihhh … dasar… emang kenapa? terus kalau ke tempat-tempat itu tidak dikunjungi apa salah? Nggak juga sih… kata temanku yang dari tadi sibuk potret sana potret sini… kucing, kodok, anjing, pohon rimbun, pohon gede.. semuanya dipotret… lewat ke rumah orang dengan bangunan yang mentereng, dengan pekarangan luas, pohon-pohonnya rimbun dan pagar yang tinggi dan rapat lagi, dari luar cuma ada “rumah monyet” (kasihan Satpam… yang jaga… hihihi…) dasar majikan penyayang binatang…. rumah jaga di bilang rumah monyet… emang satpam identik dengan monyet? hahahaha…

Lihat nih… lihat…. hasilnya…. nih… sambil dengan bangganya kalau hasil jepretannya bagus (malu dong sama Mas Triadi : piawai foto)… ini nih… yang bulat-bulat ini namanya orbs… “banyak ya?” Mereka dapat angin tinggal di Indonesia dan seluruh dunia sudah ditaklukkan  (maunya…) oleh mereka.. Kaum orbs makin berani merusak hati dan pikiran orang yang ambisius… ambisi apa saja… ingin jabatan… ingin kaya dengan cara gampang… ingin laris manis dagangannnya… ingin punya gelar… gelar yang bisa membuat bangga dan gila pangkat, gila hormat, dan gila-gila lainnya.. (gilani>..), dll…. dlsbnya…. bagi yang kaya ingin lebih kaya… tapi bagi yang miskin gak mau lebih miskin dong… kata teman saya sambil menyeringai… Yaa… iyalah…

Saya menarik nafas panjang…. batin saya bicara lagi… lantas… apa yang bisa kita perbuat dengan makhluk-makhluk seperti itu? Mereka mengganggu kita nggak ya?

“Betul… mereka bisa mengganggu… tapi jangan salah banyak orang yang kaya, miskin, pintar, dan lain sebagainya memelihara mereka… kataku” Di rumah saya pun mereka suka berkeliaran… entah piaraan siapa.. saya terus terang tidak mau punya piaraan.. kecuali kucingku si belang hampir tiga warna yang paling kusayang… dan mungkin karena orbs ini bukan teman saya… mereka suka mengganggunya ke anak laki-laki saya…. aduh… kelakuannya bisa saja sangat “aneh”…

Yang saya percaya adalah bahwa Allah SWT memang selain manusia di bumi dan segala isinya yang kelihatan mau pun tidak tampak adalah ciptaanNYA.. jadi damailah yang ingin saya rasakan… damailah di darat, di laut, di udara, di alam gaib, di rumput, di mana-mana…. Jangan ganggu lagi ya orbs…. jauh-jauhlah dari kehidupan saya dan keluarga.. Untuk itu semua yang berbentuk patung kusingkirkan jauh-jauh dari pandangan…. Selamat jalan orbs…

Ridha Allah

April 21st, 2009 by marinki

Sepintas kata-kata di atas sederhana saja, tapi kata-kata ini belum lengkap.. tambah kata-katanya dengan …. Tergantung Ridha Orangtua. Maknanya begitu dalam. Saya sempat termenung beberapa saat, ikut memikirkan apa yang tersirat si penulis buku ini.. mengapa begitu pentingnya hubungan Alloh dengan Orangtua sehingga menginspirasi penulis dengan menyusun segala permasalahan yang menyangkut dan menyeret segala perilaku orangtua terhadap anak dan begitu pula segala perilaku anak terhadap orangtua dengan segala ketentuan yang telah ditetapkan tanpa terbantahkan lagi oleh Alloh, Sang Khalik yang sangat berkuasa dengan semua kehendakNya terhadap manusia … si banyak akal dan sangat pembangkang..

Duuh… saya sempat merasa “ngeri”, bila ingat betapa manusia sekarang.. begitu enaknya saja mempermainkan alam.. sepertinya semua bisa seenaknya saja diatur dengan sesuka hati, tanpa memikirkan lebih jauh apa yang akan terjadi satu detik kemudian, atau satu jam ke depan.

Kembali ke masalah orangtua. Sebut saja seorang perempuan yang dengan segala keberadaannya sebagai penerima kodrat yang sampai detik ini tidak terbantahkan untuk ditolak., loh…. kok .. kenapa orangtua harus perempuan? atau kenapa orangtua hanya laki-laki saja? Yang sempurna kan orangtua itu terdiri dari seorang perempuan dan seorang laki-laki, tapi boleh-boleh saja sih orangtua tunggal.. wah.. itu lain masalahnya.

Lalu apa kaitannya dengan judul di atas? Mestinya dibaca lengkap saja : “Ridha Alloh Tergantung Ridho Orangtua” gitu… Terus.. bagaimana tahunya ya kita ini kalau Allah sedang meridhoi kita sebagai orangtua? apakah harus ada permasalahan dulu dengan anak sehingga Alloh memberi isyarat ridho? Apakah keridhoan Alloh itu sama dengan keridhoan orangtua? Apa sih ridho itu?

Setahu saya ridho itu rela atau ikhlas, saya jadi mikir lagi ; masa iya.. Alloh baru ikhlas kalau orangtua sudah ridho duluan? Memangnya orangtua itu selalu benar dan tak pernah salah? Kalau dibalik lagi ; masa iya .. orangtua ikhlas atau rela setelah Alloh menyatakan ikhlas.. dari mana tahunya? Kembali buku itu saya baca lagi… ahh.. bagian mana yang menerangkan mana yang duluan ikhlas atau rela atau ridho itu Alloh atau orangtua?

Saya pikir, untuk menerima ridho Alloh… kita harus memohon dulu kepadaNya paling tidak kita ibadah saja dulu yang baik dan benar sesuai perintahNya, memberi contoh perbuatan dan nasehat yang baik dan benar pula kepada anak-anak kita, dan apa yang sudah kita lakukan itu “disetujui” Alloh… kita bisa melihat bahwa anak-anak kita ternyata menjadi anak-anak  yang baik dan berada di jalur yang benar… artinya itulah Ridho Alloh..

Waspadai Fluoride untuk Anak-anak dan Kita

April 5th, 2009 by marinki

Dalam sebulan ini konsentrasi saya terfokus, dan memang sengaja difokuskan ke dunia “keingin-tahuan” mendalam masalah Mengapa banyak Anak-anak Kita yang menjadi “Korban”?
Setelah ada pengamat ‘posting’ KDRT dengan antusias berbagi bersama saya, saya sangat berterima kasih terutama kepada Abang dan None Admin yang berbaik hati mem’publishpost’kan, maka dengan itu naluri dan pikiran saya bisa dituangkan di sini.

Hati saya sangat trenyuh ketika Ibu Dosen Cantik di ruang yang dingin dan hanya ada 19 orang dengan serius mendengarkan kuliahnya. Dalam sepuluh tahun yang lalu, anak-anak yang datang dengan orangtuanya dalam satu tahun hanya antara 3-5 orang yang datang dengan “gangguan autis” per tahun, tapi yang terjadi sekarang adalah 1-3 orang anak per hari yang mengklaim memiliki ciri-ciri dengan gangguan autis itu… angka yang mengejutkan!!!

Dasarnya saya memang suka mencari informasi dan untuk memuaskan rasa keingin-tahuan saya tentang apa saja, terutama tentang anak-anak, maka dengan menyimak isi buku yang mengupas habis masalah Freemason, mulai terkuaklah apa yang selama ini menjadi tanda tanya.

Freemason adalah suatu organisasi Internasional yang menggurita di seluruh muka bumi ini. Gerakannya sungguh membuat bulukuduk merinding, yaitu menghancurkan peradaban manusia!! Loh? apa sih kaitannya Freemason dengan anak-anak kita?

“Manusia tidak akan ada gunanya kalau tidak bisa berkarya, dan inilah tujuan mereka yaitu menghancurkan pikirannya”. Bagaimana mulanya?

Pertama yang dilakukan sangat sederhana dan orangtua tidak pernah memerhatikannya, yaitu memasukkan zat kimia fluoride yang ternyata sangat beracun yang ada pada pasta gigi/odol.

Sejak anak-anak kita percaya bahwa fluoride sangat baik untuk gigi. Sekolah kita, para dokter dan lembaga pemerintahan mengatakan hal itu setiap hari, dari tahun ke tahun. Mari kita lihat lebih dekat tentang kenyataan yang sebenarnya dari Fluoride.

Merusak anak-anak dulu kan logikanya mudah ya? Toh.. nanti juga suatu saatnya jika tiba, akan muncul generasi “hancur” yang tidak bermanfaat sama sekali, jadi “menaklukan dunia” mudah juga ya?  Begitu kira-kira pandangan mereka yang terbaca oleh saya saat ini. Para orangtuanya kan sudah pada “tuir-tuir” kena alzheimer, osteoporosis dll… gampang untuk “menghabisinya”.. itu juga kira-kira pandangan  mereka yang dibaca saya… hiyyy… licik benar mereka itu..

Fluoride : Rentang panjang dari masalah-masalah kesehatan yang serius

Ilmuwan Kesehatan mengingatkan bahwa air dengan tambahan fluoride memiliki konsekuensi bahaya jangka panjang terhadap kesehatan. Selama lebih dari 50 tahun, pemerintah AS dan media telah mempromosikan fluoride sebagai alat yang aman dan efektif untuk mengurangi gigi berlubang, terutama pada anak-anak. Namun apa yang terjadi? Fluoride adalah racun yang bisa menyebabkan :

  • berkurangnya aktifitas kelenjar thyroid
  • menyebabkan dpresi, kelelahan, bertambah berat badan, sakit otot
  • meningkatnya tingkat kolesterol dan sakit jantung
  • 1 PPM Fluoride saja bisa merusak otak sehingga menyebabkan Alzheimer dan jenis lain dari kegilaan.
  • Tahun 2002, ada penelitian mewabah yang mendapati bahwa air yang mengandung fluoride berhubungan dengan melonjaknya level kandungan timah dalam darah anak-anak.
  • Puluhan penelitian laboratorium menemukan bahwa fluoride adalah sebuah mutagen, klasifikasinya menunjukkan adanya sebuah substansi carcinogenic (penyebab kanker).
  • Sebuah Institute di Harvard menerbitkan sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa fluoride lebih effektif dari pada timah dalam menurunkan tingkat IQ pada anak-anak.

Simak pula berbagai macam penyakit di bawah ini akibat penggunaan fluoride:

  • Osteoporosis (keropos tulang)
  • Arthritis (asam urat)
  • Keretakan pada tulang pinggung
  • Kanker
  • Kemandulan
  • Kerusakan otak
  • Penyakit Alzheimer
  • Tidak berfungsinya thyroid

Membaca semua ini, apakah Anda masih berpikir untuk tetap saja memberikan pasta gigi yang mengandung fluoride kepada anak-anak tercinta? Karena itu waspadai gerakan menggosok gigi di sekolah, tanyakan pada ahlinya yang bukan anggota Freemason!!!!.

Lantas anak-anak dan kita sendiri bagaimana? Beritahu dulu anak-anak jangan suka menelan odol.. karena odol dibuat dengan berbagai rasa dan mengandung fluoride adalah ada tujuan terselubung… gosoklah gigi dengan bahan yang aman… kalau perlu pakai siwak kali yaaaa..

(Bahan tulisan : Bayang-bayang Gurita Oleh Jerry Duane Gray. Th. 2005)

KDRT K

Maret 17th, 2009 by marinki

Ini kejadian sebenarnya… Kekerasan Dalam Rumah Tangga!

Aku baru tahu dan baru menyadari bahwa ternyata ada seorang bapak yang sangat kejam, sadis, tidak berperikebinatangan…. aku nggak tahu harus bilang apa terhadap bapak ini, masalahnya apa kok sampai berbuat setega itu.. apakah dia ini sudah memang alamnya atau psikopat… atau psisophrenia atau apalah istilahnya…

Ceritanya sore-sore itu aku sedang duduk santai minum teh dan pisang rebus kesuakaanku sambil menunggu warta berita, biar pun wartaberita di channel apasaja selalu beritanya itu itu juga … masalah Ponari lah, masalah Caleg lah, masalah bentrok-bentrokanlah… masalah banjir… yah masalah-masalah yang tidak mengenakan hati… tapi kok ya ditungguin dan ditonton lagi… yang kelewatan siapa?

Tiba-tiba anakku menjerit……. garooonggg….!!!!!

Aku terkesiap, karena aku mendengar suara histeris yang sangat menyayat hati… aku loncat dan segera menghambur keluar lewat pintu depan… sekejap ada sosok bayangan yang sangat kukenal… tapi aku pun terkesiap lagi karena melihat si tubuh putih imut mungil… terseok-seok… lari kecil sedikit pincang.. aku tertegun menatap wajahnya yang sayu dengan ujung kuping kanannya yang lenyap hilang entah kemana… melata merana…. aduuuuhhhh nasibmu…. sengsara amat… kenapa? tega amat naluri bapakmu itu?

Aku terpana, tak sangka… ini bukan lagu Semangka berbuah nangka…. atau Buah tak jauh dari pohonnya… tapi ini hukum alam yang berlaku.

Hm… beras yang kutanak tadi sudah jadi nasi…. dan tubuh mungil itu pun hanya ditatap sambil dielus-elus ‘emak’ pakai juluran lidahnya…. menatap dengan kosong ‘innocent’.. mungkin kalau bahasa Indonesianya begini : … “jangan dijadikan sakit hati nak… memang bapakmu itu kucing garong paling top di kompleks.. ya gitu itu kelakuannya…. preman abis..” (Kekerasan dalam rumahtangga Kucing).

Aduuuhhh Lupaaa..

Maret 10th, 2009 by marinki

Kata-kata itu sering sekali kita dengar … sepertinya orang biasa saja mengucapkan itu dengan cukup menepukkan telapak tangannya ke dahi, atau jidat? Setelah itu baru diikuti rasa .. bisa malu… bisa rasa bersalah.. bisa rasa kesal… bisa rasa rasa lainnya…

Kejadian sehari-hari yang rasanya semua orang pernah mengalami, kalau ada yang selalu ingat … pasti hebat dan superlah orang itu. Tapi perlu dibahas juga kenapa ya orang ingat terus, atau kok sering lupa atau pernah lupa artinya lupa sekali-sekali saja, semoga jangan sampai lupa ingatan saja..

Seorang psikolog tahun 1968 Atkinson dan Shriffin pernah mewakili pendekatannya tentang teori informasi, yaitu yang disebut memory. Memory itu sendiri artinya penyimpanan dan mengambil kembali informasi. Mereka mengatakan hal ini sudah terjadi pada manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Tentunya teori ini tidak langsung diterima tapi ada juga yang menambahkan kekurangan atau tepatnya dilengkapi oleh psikolog psikolog yang lain.

Untuk pengguna atau peneliti ilmu berikutnya mungkin yang perlu adalah bagaimana mengimplementasikan masalah memory ke dalam kehidupan manusia agar bisa berguna.
Ada beberapa hal yang patut dipahami, bagaimana cara yang baik untuk mengingat, katanya begini :

Pemroresan informasi yang menggunakan model. Model ini berpendapat bahwa informasi diproses dan disimpan dalam 3 tahap, yaitu:

Tahap Sensory Memory.
Tubuh mempunyai sel penerima sensor khusus yang mengalami transduksi energi ke sesuatu yang dapat dimengerti otak. Dalam proses transduksi inilah sebuah memori tercipta.(Transduksi : perubahan dari bentuk energi satu ke bentuk energi lain). Memory ini sangat singkat, hanya perlu kurang setengah detik penglihatan, kira-kira 3 detik pendengaran.. Jadi wajar kalau orang yang tidak melatih untuk mengingat atau sedang melamun berada di awang-awang mimpi apa yang akan dilakukan kalau terpilih jadi ‘caleg’…. hehehe… sering .. tulalit..
Sarannya untuk para siswa agar memperhatikan informasi pada tahap awal ini agar bisa mentranfernya ke tahap berikut. Ikuti langkah 2 konsep ini, yaitu membuat fitur menarik, dan aktifkan pola yang telah dikenal.

Memori Jangka Pendek (Short Term Memory).

STM, biasanya disebut memori yang bekerja dan berkaitan dengan apa yang sedang kita pikirkan pada saat itu. Istilah Freudian disebut memori sadar, karena menurut dia memori ini tercipta dari stimulus eksternal dan pemikiran internal yang berlangsung kira-kira 15 - 20 detik saja, kecuali kalau diulang-ulang hingga 20 menit. Yang ikut campur dalam pemroresan memori ini adalah hipotalamus, yaitu struktur otak yang dianggap terlibat dalam proses informasi dangkal.

Frontal lobes dari cerebral cortex adalah susunan yang diasosiasikan dengan memory yang bekerja.. misalnya anda memproses kata-kata yang anda baca di layar frontal lobes anda, namun, jika ditanya : “berapa nomor telponmu?” otak anda segera memanggil ingatan jangka panjang dan menggantikan apa yang sebelumnya ada…. bukan dijawab… aduuuhhh …lupaaaa..

Memori Jangka Panjang (Long Term Memory)

Nah.. kalau yang ini disebut memori pra sadar… ini istilah Freudian lagi, yaitu yang menggunakan teori psiko prasadar dan bawah sadar. Artinya informasi tersebut relatif mudah diingat, meski pun perlu beberapa menit atau  jam… sedangkan bawah sadar merujuk pada data yang tidak bisa didapatkan dalam kesadaran yang normal. Memori prasadarlah yang menjadi fokus psikologi kognitif karena berkaitan dengan ingatan jangka panjang.

Elaborasi yang umum digunakan dalam proses belajar/mengajar, contohnya :

  • Membayangkan - menyiptakan gambaran mental,
  • Metode loci (lokasi) - yaitu ide atau hal yang harus diingat dihubungkan dengan benda yang terletak dalam lokasi yang familiar,
  • Metode pegword (angka, skema berirama) - ide atau hal yang harus diingat dihubungkan dengan kata spesifik (mis: satu batu, dua kuda, dst),
  • Ritme (lagu, frase) - informasi yang harus diingat diatur dalam ritme, mis: 30 hari dalam bulan September, Juni, April, dst.),
  • Huruf awal - huruf awal dari setiap kata dalam daftar digunakan untuk membuat kalimat (the sillier, the better, etc..).

Kalau masih juga lupa bagaimana?… jangan putus asa… karena orang pelupa biasanya memang tidak putus asa…. wong lupaaa..

Pusing-pusing cari guru

Februari 26th, 2009 by marinki

Entah kenapa ya zaman kok makin ‘edan’ kata orang sih begitu…
Coba saja, mau pemilu, orang buru-buru ingin jadi caleg, lalu cari guru biar diajarkan soal-soal politik, biar pun dia itu cuma tukang bakso, dia berani maju mencalonkan diri jadi caleg.. kenapa? karena gurunya pernah bilang masalah politik bisa dipelajari kok…. yang penting “goal” dulu aja…karena dia sudah banyak keluar uang, harus diganti dong.. kalau bisa kepilih kan modal bisa balik….sampai segitunya pikiran orang sekarang, yang sakit jiwa nih siapa? yang tidak mau memilih atau yang akan dipilih? Trus guru itu bukankah yang “digugu dan ditiru?” Yang digugu, diturut apanya? Yang ditiru, dicontoh apanya?

Tadi pagi pulang senam, aku baca blognya Fanabis, judulnya kalau nggak salah tentang “berguru” juga. Aku jadi merenung, merenung kenapa Fanabis (Fan Abis?) menjadikan ide ceritanya “cuma” seekor anjing sih?
Tidak berapa lama aku jadi ingat modul psikologi kemarin tentang penelitian seorang fisiolog Rusia yang memanfaatkan anjing sebagai penelitiannya. Ini unik dan ada kaitannya dengan postingnya Fanabis (maunya dihubung-hubungkan… he he ).
Begini, Fisiolog yang bernama Ivan Petrovich Pavlov yang hidup dari tahun 1849-1946 katanya, tanpa sengaja menemukan tipe belajar yang unik dan dikenal dengan theori Kondisi Klasik Pavlov (Pavlov’s Classical Conditioning). Di sini yang jadi penelitiannya adalah anjing. Pavlov bilang waktu dia sedang mempelajari fisiologi dari pencernaan waktu menemukan hal yang aneh. Pencernaan mulai di mulut saat ludah mulai memecah makanan, dan anjing akan mengeluarkan ludah atau liurnya saat diletakkan makanan (daging) pada mulutnya, tapi namanya juga anjing yah… anjing eksperimen juga akan mengeluarkan liurnya disaat si peneliti masuk ke dalam ruangan atau terlihat kalau ada makanan. Percobaannya menggunakan metronome (alat yang berbunyi kalau digerakkan dulu), daging, liur, dan tentu saja sang anjing.

Metronome berbunyi, anjing melihat daging, maka liurnya keluar, atau anjing melihat daging dulu, metronome berbunyi, barulah anjingnya “ngeces”. Pavlov mengulang lagi begitu terus, lalu percobaan berikutnya adalah dagingnya tidak diperlihatkan lagi ke anjing, tapi metronome dibunyikan dan anjing tetap saja bisa mengeluarkan air liurnya juga. Pavlov mengambil kesimpulan bahwa ternyata anjing merespon : metronome berbunyi… lalu langsung merespon. Sampai sekarang masih bisa diterapkan teori Pavlov dalam perkembangan anak dan terapi apa yang terbaik untuk diterapkan, dan teori ini dilanjutkan oleh John Watson untuk manusia. Misalnya : seorang anak takut pada tikus, dan ada suara keras sebagai sesuatu yang tidak dikondisikan, apa yang terjadi? respon takutnya bisa berupa terpana. Jelasnya tikus adalah sebagai kondisi stimulus (CS), suara keras sebagai stimulus yang tidak dikondisikan (UCS), dan terpana adalah respon yang tidak dikondisikan (UCR).

Jadi untuk orang awam seperti saya, bahwa manusia bisa berguru kepada hewan untuk meneliti sisi instingnya, karena hewan memiliki insting spesifik, dan manusia adalah makhluk paling sempurna, segala ada, insting ada, akal ada, naluri ada, id ada, ego ada, dan yang paling lengkap menurut Freud adalah manusia yang sudah memanfaatkan super egonya. Siapa saja bisa dijadikan guru untuk kita kan?

Generasi Berbeda

Februari 19th, 2009 by marinki

Seperti ada yang kurang jika satu keluarga hanya memiliki 1 anak perempuan saja atau 1 anak laki-laki saja, hampir rata-rata orang yang saya temui ingin dan bahkan baru merasa “lengkap” kalau memiliki 2 anak, 1 laki-laki dan 1 perempuan, tapi apakah setiap orangtua memikirkan hal sama dengan cara mendidik keduanya? Read the rest of this entry »