Kembalikan MOS pada fungsi yang sebenarnya.
Juli 16th, 2009 by marinkiMiris rasanya mendengar berita tentang kasus seorang ayah dengan teganya mendamparkan anaknya di rel kereta api.. sehingga kini anaknya cacat karena ulahnya.
Belum seminggu, datang lagi berita seorang siswa SMU yang sedang mengikuti MOS meninggal dunia karenanya..
Kasus pertama memang berbeda dengan kasus ke dua, namun sama-sama yang menjadi korban adalah seorang anak. Betapa muramnya dunia anak-anak sekarang. Mereka harus berjuang agar menjadi “orang” saja begitu banyak kerikil yang harus dilaluinya.. dan kerikil tajam itu tidak jauh dari lingkungannya sendiri.
Sudah banyak para ahli kejiwaan, ahli perilaku, ahli pengobatan, para guru, para ahli agama mengadakan seminar-seminar, lokakarya, pendalaman materi-materi, membuat buku-buku, memberikan ceramah-ceramah tentang moral, budi pekerti… mereka seolah tidak berdaya bahwa ternyata di lapangan lain kenyataannya.
Mengapa terjadi tindak kekerasan terhadap anak? Siapa saja yang bisa menjadi korbannya? Tanggung jawab siapa kalau terjadi “bullying” terhadap anak? Kenapa harus terjadi?
Anda atau pun siapa saja yang menjadi orangtua pasti tidak ingin anaknya menjadi korban bullying. Tapi sebagai orangtua perlu merenung, pertama bahwa anak-anak adalah peniru yang baik. Anak akan cepat mereplikasi apa yang mereka lihat, mereka dengar, mereka rasakan dan yang dialaminya. Kalau kita memperlakukan mereka dengan keras, artinya orangtua telah mencetak mereka berkepribadian keras. Kemungkinannya adalah mereka suatu saat akan mempraktekkannya kepada yang lain dalam bentuk bullying. Kedua, bahwa selama ini meski pun contoh kasus sudah sering diperlihatkan keburukan dari sistem MOS atau OSPEK atau istilah lainnya yang selalu menghasilkan korban-korban.. sejauh ini mengapa hal seperti itu dianggap sebagai fenomena biasa dan wajar? sehingga dibiarkan berlalu begitu saja? Tidakkah dipikir bahwa kekerasan akan melahirkan kekerasan, dan bukan ketegaran… sekali lagi bukan ketegaran! Apa yang ada dalam pikiran Kepala Sekolah dan Guru-guru sebagai pendidik terhadap MOS? Mengapa pihak sekolah, Komite dan Orangtua membiarkan acara tahunan itu tetap diizinkan berlangsung, dan harus memakan korban?
Marilah kita gunakan rasionalitas dan realitas sebagai orangtua, pendidik, pencetak generasi mendatang bahwa tempatkanlah MOS itu ke fungsi yang sebenarnya, gunakan MOS itu sebagai ajang silaturakhmi dan persahabatan antara siswa yang lama dan siswa yang baru. Misalnya saja seorang siswa yang baru akan mendapat kakak kelas yang akan membantu kesulitan di sekolahnya. Setiap anak memiliki adik asuh yang diajarkan dan dibimbing untuk mengenal lingkungan sekolahnya oleh masing-masing kakak kelasnya. Bukan seperti ini, MOS dijadikan sebagai proses perusakan moral dan mental siswa… bahkan penghancuran kepribadian siswa.
Hapuskan cara-cara lama yang sama sekali tidak mendidik. Berikan waktu kepada anak-anak untuk menumbuhkan kepercayaan bahwa sekolah adalah tempat yang aman untuk mereka. Pendidik harus bisa memberikan kesan bahwa mereka bisa dipercaya dan ada untuk anak-anak.
![Reblog this post [with Zemanta]](http://img.zemanta.com/reblog_e.png?x-id=56c1ec55-943e-4e3f-a641-49cc76276960)